Ting
Tong.
……
Cklek.
“Ada
Steve?”
Uh! Mengapa nenek sihir
ini selalu datang? “Yah…”
Aku membuka pintu lebar. Tapi aku tak meyuruhnya masuk. Tanpa disuruh dia pasti
masuk sendiri.
“Aku
akan tunggu di ruang tamu.” Dia masuk ke ruang tamu. Tanpa disuruh. Sangat
tidak sopan!
Aku
membiarkannya. Lalu pergi ke ruang TV untuk kembali santai. Aku tidak mau
memanggil Steve. Itu hanya akan membuatku merasa sakit hati. Biar saja, sampai
Steve tahu sendiri.
Sudah
hampir satu jam aku bersantai di ruang TV dan Steve belum tahu juga kalau Kelly
datang berkunjung. Yah… aku harap Kelly tidak tahan menunggu dan pergi pulang.
“Huahm…”
Steve menuruni tangga. Dari tampangnya, dia baru saja bangun tidur. Untung saja
aku tidak membangunkannya untuk sekedar bertemu Kelly, kalau tidak tidurnya
pasti terganggu.
Steve
lalu duduk di sampingku. Dia lalu mengambil handphone-nya dan terkejut saat
melihat layarnya. “Apa
tadi Kelly ke sini?” Steve bertanya sambil melototiku.
Aku
menggeleng, “hanya penyihir tua jahat yang menjelma menjadi seorang wanita
ganjen.” Jawabku yang masih terpaku pada layar televisi.
“Apa
dia masih di sini?” Steve lalu berdiri. Posisinya seperti memasang kuda-kuda
untuk berlari.
“Mungkin?”
Steve
lalu berlari menuju ruang tamu. Dia tidak kembali, berarti Kelly masih duduk
manis di sana.
Aku
tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Lagi pula, aku tidak mau tahu. Tapi aku
yakin mereka pasti membicarakanku. Lebih tepatnya membicarakan ketidak-sukaanku
terhadap Kelly. Dan pasti Steve akan berkali-kali meminta maaf pada Kelly. Dan
Kelly pasti akan berakting menjadi wanita penuh kasih sayang dan memaafkan
semua kesalahanku.
“NINDIE!!!” Steve
meneriaki namaku. Ini artinya aku pasti akan dimarahi Steve.
“Kau
keterlaluan, Nindie!” Steve berdiri di hadapanku sekarang. “Kenapa kau tidak
membangunkanku?! Kau kejam sekali membiarkan Kelly sendiri tanpa disuguhi
minuman!” Steve mulai menceramahiku.
“Jika
aku membangunkanmu tidurmu pasti akan terganggu. Bukannya aku tidak mau
menyuguhinya minum, melihat wajahnya saja sudah cukup membuatku ingin muntah,” jawabku spontan.
“Jaga
ucapanmu!” Steve menghardikku. “Mengapa kau sangat tidak menyukai Kelly?” Steve
melembut dan duduk di sampingku.
Aku
diam. Aku tak menyangka akan dipojokkan dengan pertanyaan seperti itu.
“Nindie…”
Steve menyenggol lenganku.
Aku
menarik napas panjang, “aku membencinya karena ia mengambilmu dariku.” Aku
tidak percaya aku mengatakannya. “Aku ingin tinggal di sini karena kupikir kau
akan menjagaku lebih baik daripada ayah dan ibu. Tapi dua tahun setelah aku
bersamamu nenek sihir itu datang dan merusak hidupku.” Jelasku.
……
Hening.
Aku
mendengar Steve menghembuskan napas. “Aku
minta maaf karena lebih peduli pada Kelly dibanding dirimu. Aku punya alasan.”
Steve mulai bicara.
“Apa
alasanmu? Apa karena dia lebih cantik daripada adikmu ini?” Pertanyaanku sangat
tidak masuk akal!
“Hahaha.
Dia memang lebih cantik darimu. Tapi dia tidak lebih manis darimu.” Aku
masih diam. Gombalannya tak mempengaruhiku.
“Kelly
itu temanku satu kelas, satu sekolah. Aku dan dia baru satu bulan menjadi
sepasang ke…”
“Aku
tidak menanyakan itu!” Aku memotong kalimatnya. Aku benci saat tiap kali ia menceritakan
hal itu.
“Kelly
itu punya beban hidup yang berat, Nindie. Orang tuanya bercerai. Kelly kini
tinggal bersama ayahnya. Ibunya menjadi gila karena ayahnya tak memperbolehkan
ibunya bertemu Kelly. Ayahnya punya banyak hutang lalu kabur entah ke mana.
Kini, Kelly yang menanggung semua hutang ayahnya dan merawat ibunya seorang
diri. Kelly datang ke sini terkadang hanya ingin bercerita atau meminjam uang
padaku.” Jelas Steve.
Cerita
Steve tak menyentuh hatiku sedikit pun. Mungkin ini efek dari kebencianku
terhadap Kelly. “Ah!
Aku tidak mengerti!” Aku berdiri lalu berjalan cepat menuju kamar.
“Kau
sudah 13 tahun! Kapan kau mulai dewasa?” Kata Steve setengah berteriak.
Kalimatnya membuatku tersinggung.
“AKU
TAK MAU DEWASA! DAN KAU TAK BERHAK MENGHAKIMIKU UNTUK MENJADI DEWASA!!!” teriakku. Mengeluarkan emosiku atas singgungannya.
BRAK!
Aku
membanting pintu. Ingin menangis rasanya. Tapi kalimat Steve tadi serasa
menyuruh air mata ini untuk tidak mengalir. Aku masih 13 tahun! Aku bukan dia
yang berumur 20 tahun! Aku masih duduk di bangku Junior High School! Bukan dia
yang sudah bekerja dan sekolah di University!!!
Aku
ingin pergi dari sini. Menjauh dari Steve, kakak bodohku yang lebih
mementingkan pacarnya dibanding adik kandungnya. Aku
mulai mengemas barang. Aku bukan tipe perempuan berlebihan yang akan membawa
satu koper----mungkin lebih jika ingin kabur. Aku sederhana, satu ransel sekolah
cukup untuk membawa barang keperluanku.
Aku
akan kabur pukul delapan malam nanti. Saat itu Steve pasti sudah pergi ke rumah
Kelly.
Aku sudah kabur. Aku sudah berjalan
jauh dari rumah. Tapi aku harus bagaimana sekarang? Beginilah kalau kabur tanpa
persiapan. Mungkin satu minggu kemudian aku bakal ditemukan tewas dalam keadaan
kedinginan dan kelaparan. Atau mungkin besok. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.
JLEP!
“Ah… Kau…”
“Siapa suruh kau tidak mau memberiku
$100. Ini balasan karena kau berani macam-macam pada Yakuza!”
A…
apa…? Tadi… dia bilang… yakuza?
Aku melihat kejadian itu jelas dari
balik gang yang baru saja mau aku lewati. Oh, tidak. Apa nanti aku akan jadi
saksi dan diinterogasi oleh polisi? Atau aku akan mati di sini jika yakuza itu
melihatku?
Sementara itu, kulihat pria itu
mengambil pisau yang tadi ditancapkannya ke jantung lawan bicaranya----yang
sudah terbaring penuh darah.
Siiing.
Gawat!
Dia melihatku! Nyawaku dalam bahaya! Aku segera pergi dari tempat itu.
Berjalan cepat menjauhi gang itu. Tak lama aku berjalan, aku mendengar langkah
kaki di belakangku. Aku harus berlari sekarang.
“Hei, kau!”
Ada
yang menarik tanganku. Itu pasti yakuza. Kuusahakan untuk tetap tenang. Tapi
keringat dingin yang sudah mengalir deras ini menandakan bahwa aku pasti sudah
setengah mati ketakutan. Aku lalu menghadap ke belakang.
Yakuza itu tiba-tiba mendorongku
dengan kuat ke tembok.
ZET!
Yakuza itu menancapkan pisau yang
penuh darah di samping telingaku. “Kau! Jangan pernah katakan hal ini
pada siapa pun, mengerti?! Atau kau… ingin di…” Yakuza itu tiba-tiba
mencekikku.
“Ah… To..long..lepas..kan..aku…
hah..hah..” Cekikannya begitu kuat hingga aku hampir kehabisan napas. Mungkin
ini adalah akhir hayatku.
“Hahaha! Rasakan!”
Tanganku bergerak-gerak memukul dan
mencubit tangan pria itu. Tapi semakin aku memberontak semakin kuat pula
cekikannya. Kakiku pun ikut memberontak. Ku tendang daerah intim pria itu. Dia
kesakitan dan akhirnya melepaskan cekikannya. Dia lalu membungkuk sambil
memegang daerah intimnya dan berkali-kali berteriak “Auw!” dan “Aduh!”
Aku mendekatinya lalu menariknya
untuk berdiri. Dan dengan kemampuan karate-ku yang masih junior, ku tendang
tepat di dadanya sekeras mungkin.
BUK!
Dia
terdorong ke tembok. Tak kusangka, tendanganku membuat salah satu anggota
gangster Jepang----yakuza itu terhempas hebat ke belakang.
“Jangan
kau anggap gadis kecil sepertiku tidak bisa melawanmu!” Kataku berteriak.
“Hah…
hah…” Yakuza itu memegang dadanya.
……
Yakuza
itu seperti sudah mati. Tak bergerak sedikit pun. Tapi itu tidak mungkin.
Anggota yakuza pasti kuat. Tidak mungkin kalah hanya dengan tendangan dari
gadis kecil ingusan sepertiku. Aku ingin mendekatinya tapi takut kalau itu
hanyalah tipu muslihatnya semata. Lebih baik aku menunggu hingga dia bosan
berpura-pura mati seperti itu. Daripada aku pergi dari sini, tak tahu mau ke
mana. Di sini aku juga bisa beristirahat sejenak.
Aku
sudah menunggu lebih dari satu jam. Dan yakuza itu tetap terbaring tenang di
sana. Sepertinya aku harus mendekatinya agar aku tahu dia hanya berpura-pura
akting atau tidak.
Aku
menyenggol lengannya dengan kakiku. Dia tak bereaksi. Aku menendang kakinya.
Dia juga sama sekali tak bereaksi. Aku lalu jongkok. Memeriksa apa denyut
nadinya masih ada. Oh, tidak. Denyut nadinya tidak ada! Ku coba mendekatkan
telingaku ke dadanya. Aku juga tidak mendengar suara detak jantung. Apa
ini artinya dia mati? Dan aku… adalah… pembunuhnya? Aku? Apa aku menjadi
buronan sekarang?
Aku
mundur menjauhi yakuza itu. Aku harus
kabur sekarang! Aku menutupi kepalaku dengan penutup kepala yang menempel
pada jaketku dan berlari menjauh. Ke mana pun itu. Berlari, hingga aku sudah
tak sanggup lagi berlari. Aku ingin diriku tewas dengan sendirinya sebelum
polisi menemukanku dan orang-orang yang menemukan jasadku, kuharap mereka
mengubur jasadku.
Maafkan
aku, Steve. Dan juga Kelly… Untuk semua kesalahanku.