Senin, 04 November 2013

Running Away


Ting Tong.
……
Cklek.
“Ada Steve?”
Uh! Mengapa nenek sihir ini selalu datang? “Yah…” Aku membuka pintu lebar. Tapi aku tak meyuruhnya masuk. Tanpa disuruh dia pasti masuk sendiri.
“Aku akan tunggu di ruang tamu.” Dia masuk ke ruang tamu. Tanpa disuruh. Sangat tidak sopan!
Aku membiarkannya. Lalu pergi ke ruang TV untuk kembali santai. Aku tidak mau memanggil Steve. Itu hanya akan membuatku merasa sakit hati. Biar saja, sampai Steve tahu sendiri.
Sudah hampir satu jam aku bersantai di ruang TV dan Steve belum tahu juga kalau Kelly datang berkunjung. Yah… aku harap Kelly tidak tahan menunggu dan pergi pulang.
“Huahm…” Steve menuruni tangga. Dari tampangnya, dia baru saja bangun tidur. Untung saja aku tidak membangunkannya untuk sekedar bertemu Kelly, kalau tidak tidurnya pasti terganggu.
Steve lalu duduk di sampingku. Dia lalu mengambil handphone-nya dan terkejut saat melihat layarnya. “Apa tadi Kelly ke sini?” Steve bertanya sambil melototiku.
Aku menggeleng, “hanya penyihir tua jahat yang menjelma menjadi seorang wanita ganjen.” Jawabku yang masih terpaku pada layar televisi.
“Apa dia masih di sini?” Steve lalu berdiri. Posisinya seperti memasang kuda-kuda untuk berlari.
“Mungkin?”
Steve lalu berlari menuju ruang tamu. Dia tidak kembali, berarti Kelly masih duduk manis di sana.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Lagi pula, aku tidak mau tahu. Tapi aku yakin mereka pasti membicarakanku. Lebih tepatnya membicarakan ketidak-sukaanku terhadap Kelly. Dan pasti Steve akan berkali-kali meminta maaf pada Kelly. Dan Kelly pasti akan berakting menjadi wanita penuh kasih sayang dan memaafkan semua kesalahanku.
“NINDIE!!!” Steve meneriaki namaku. Ini artinya aku pasti akan dimarahi Steve.
“Kau keterlaluan, Nindie!” Steve berdiri di hadapanku sekarang. “Kenapa kau tidak membangunkanku?! Kau kejam sekali membiarkan Kelly sendiri tanpa disuguhi minuman!” Steve mulai menceramahiku.
“Jika aku membangunkanmu tidurmu pasti akan terganggu. Bukannya aku tidak mau menyuguhinya minum, melihat wajahnya saja sudah cukup membuatku ingin muntah,” jawabku spontan.
“Jaga ucapanmu!” Steve menghardikku. “Mengapa kau sangat tidak menyukai Kelly?” Steve melembut dan duduk di sampingku.
Aku diam. Aku tak menyangka akan dipojokkan dengan pertanyaan seperti itu.
“Nindie…” Steve menyenggol lenganku.
Aku menarik napas panjang, “aku membencinya karena ia mengambilmu dariku.” Aku tidak percaya aku mengatakannya. “Aku ingin tinggal di sini karena kupikir kau akan menjagaku lebih baik daripada ayah dan ibu. Tapi dua tahun setelah aku bersamamu nenek sihir itu datang dan merusak hidupku.” Jelasku.
……
Hening.
Aku mendengar Steve menghembuskan napas. “Aku minta maaf karena lebih peduli pada Kelly dibanding dirimu. Aku punya alasan.” Steve mulai bicara.
“Apa alasanmu? Apa karena dia lebih cantik daripada adikmu ini?” Pertanyaanku sangat tidak masuk akal!
“Hahaha. Dia memang lebih cantik darimu. Tapi dia tidak lebih manis darimu.” Aku masih diam. Gombalannya tak mempengaruhiku.
“Kelly itu temanku satu kelas, satu sekolah. Aku dan dia baru satu bulan menjadi sepasang ke…”
“Aku tidak menanyakan itu!” Aku memotong kalimatnya. Aku benci saat tiap kali ia menceritakan hal itu.
“Kelly itu punya beban hidup yang berat, Nindie. Orang tuanya bercerai. Kelly kini tinggal bersama ayahnya. Ibunya menjadi gila karena ayahnya tak memperbolehkan ibunya bertemu Kelly. Ayahnya punya banyak hutang lalu kabur entah ke mana. Kini, Kelly yang menanggung semua hutang ayahnya dan merawat ibunya seorang diri. Kelly datang ke sini terkadang hanya ingin bercerita atau meminjam uang padaku.” Jelas Steve.
Cerita Steve tak menyentuh hatiku sedikit pun. Mungkin ini efek dari kebencianku terhadap Kelly. “Ah! Aku tidak mengerti!” Aku berdiri lalu berjalan cepat menuju kamar.
“Kau sudah 13 tahun! Kapan kau mulai dewasa?” Kata Steve setengah berteriak. Kalimatnya membuatku tersinggung.
“AKU TAK MAU DEWASA! DAN KAU TAK BERHAK MENGHAKIMIKU UNTUK MENJADI DEWASA!!!” teriakku. Mengeluarkan emosiku atas singgungannya.
BRAK!
Aku membanting pintu. Ingin menangis rasanya. Tapi kalimat Steve tadi serasa menyuruh air mata ini untuk tidak mengalir. Aku masih 13 tahun! Aku bukan dia yang berumur 20 tahun! Aku masih duduk di bangku Junior High School! Bukan dia yang sudah bekerja dan sekolah di University!!!
Aku ingin pergi dari sini. Menjauh dari Steve, kakak bodohku yang lebih mementingkan pacarnya dibanding adik kandungnya. Aku mulai mengemas barang. Aku bukan tipe perempuan berlebihan yang akan membawa satu koper----mungkin lebih jika ingin kabur. Aku sederhana, satu ransel sekolah cukup untuk membawa barang keperluanku.
Aku akan kabur pukul delapan malam nanti. Saat itu Steve pasti sudah pergi ke rumah Kelly.


Aku sudah kabur. Aku sudah berjalan jauh dari rumah. Tapi aku harus bagaimana sekarang? Beginilah kalau kabur tanpa persiapan. Mungkin satu minggu kemudian aku bakal ditemukan tewas dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Atau mungkin besok. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.
            JLEP!
            “Ah… Kau…”
            “Siapa suruh kau tidak mau memberiku $100. Ini balasan karena kau berani macam-macam pada Yakuza!”
            A… apa…? Tadi… dia bilang… yakuza?
            Aku melihat kejadian itu jelas dari balik gang yang baru saja mau aku lewati. Oh, tidak. Apa nanti aku akan jadi saksi dan diinterogasi oleh polisi? Atau aku akan mati di sini jika yakuza itu melihatku?
            Sementara itu, kulihat pria itu mengambil pisau yang tadi ditancapkannya ke jantung lawan bicaranya----yang sudah terbaring penuh darah.
            Siiing.
            Gawat! Dia melihatku! Nyawaku dalam bahaya! Aku segera pergi dari tempat itu. Berjalan cepat menjauhi gang itu. Tak lama aku berjalan, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku harus berlari sekarang.
            “Hei, kau!”
            Ada yang menarik tanganku. Itu pasti yakuza. Kuusahakan untuk tetap tenang. Tapi keringat dingin yang sudah mengalir deras ini menandakan bahwa aku pasti sudah setengah mati ketakutan. Aku lalu menghadap ke belakang.
            Yakuza itu tiba-tiba mendorongku dengan kuat ke tembok.
ZET!
            Yakuza itu menancapkan pisau yang penuh darah di samping telingaku. “Kau! Jangan pernah katakan hal ini pada siapa pun, mengerti?! Atau kau… ingin di…” Yakuza itu tiba-tiba mencekikku.
            “Ah… To..long..lepas..kan..aku… hah..hah..” Cekikannya begitu kuat hingga aku hampir kehabisan napas. Mungkin ini adalah akhir hayatku.
            “Hahaha! Rasakan!”
            Tanganku bergerak-gerak memukul dan mencubit tangan pria itu. Tapi semakin aku memberontak semakin kuat pula cekikannya. Kakiku pun ikut memberontak. Ku tendang daerah intim pria itu. Dia kesakitan dan akhirnya melepaskan cekikannya. Dia lalu membungkuk sambil memegang daerah intimnya dan berkali-kali berteriak “Auw!” dan “Aduh!”
            Aku mendekatinya lalu menariknya untuk berdiri. Dan dengan kemampuan karate-ku yang masih junior, ku tendang tepat di dadanya sekeras mungkin.
BUK!
Dia terdorong ke tembok. Tak kusangka, tendanganku membuat salah satu anggota gangster Jepang----yakuza itu terhempas hebat ke belakang.
“Jangan kau anggap gadis kecil sepertiku tidak bisa melawanmu!” Kataku berteriak.
“Hah… hah…” Yakuza itu memegang dadanya.
……
Yakuza itu seperti sudah mati. Tak bergerak sedikit pun. Tapi itu tidak mungkin. Anggota yakuza pasti kuat. Tidak mungkin kalah hanya dengan tendangan dari gadis kecil ingusan sepertiku. Aku ingin mendekatinya tapi takut kalau itu hanyalah tipu muslihatnya semata. Lebih baik aku menunggu hingga dia bosan berpura-pura mati seperti itu. Daripada aku pergi dari sini, tak tahu mau ke mana. Di sini aku juga bisa beristirahat sejenak.
Aku sudah menunggu lebih dari satu jam. Dan yakuza itu tetap terbaring tenang di sana. Sepertinya aku harus mendekatinya agar aku tahu dia hanya berpura-pura akting atau tidak.
Aku menyenggol lengannya dengan kakiku. Dia tak bereaksi. Aku menendang kakinya. Dia juga sama sekali tak bereaksi. Aku lalu jongkok. Memeriksa apa denyut nadinya masih ada. Oh, tidak. Denyut nadinya tidak ada! Ku coba mendekatkan telingaku ke dadanya. Aku juga tidak mendengar suara detak jantung. Apa ini artinya dia mati? Dan aku… adalah… pembunuhnya? Aku? Apa aku menjadi buronan sekarang?
Aku mundur menjauhi yakuza itu. Aku harus kabur sekarang! Aku menutupi kepalaku dengan penutup kepala yang menempel pada jaketku dan berlari menjauh. Ke mana pun itu. Berlari, hingga aku sudah tak sanggup lagi berlari. Aku ingin diriku tewas dengan sendirinya sebelum polisi menemukanku dan orang-orang yang menemukan jasadku, kuharap mereka mengubur jasadku.
Maafkan aku, Steve. Dan juga Kelly… Untuk semua kesalahanku.

Senin, 28 Oktober 2013

Senpai


          Sreet…

          Aku mendengar sura pintu depan rumahku dibuka. Itu pasti Yuki, dia selalu datang terlalu pagi menjemputku. Padahal sudah berkali-kali kukatakan padanya bahwa jemput aku tiga puluh menit sebelum bel sekolah berbunyi. Kalau dia menjemputku sekarang----empat puluh lima menit sebelum bel----dia pasti akan lama menunggu karena aku baru selesai mandi.
          Aku mendengar okasan(ibu) memanggilku turun. “Hai(iya). Aku baru saja mau turun,” kataku bohong. Aku lalu bergegas mengganti pakaian mandiku dengan seragam SMA Perfect Kyoto kebanggaanku. Tak lupa pula aku bercermin, menyisir rambutku yang kupotong mirip dengan tokoh anime favoritku dan memakaikan bedak bayi tipis ke wajahku. Yup, penampilanku sempurna. Kuambil ranselku dan turun menuju dapur. Di sana pasti Yuki sudah menunggu.
          “Maaf membuatmu menunggu, Yuki,” kataku sesampai di bawah. Aku berjalan menuju okasan, menaruh ranselku di kursi meja makan, lalu mengambil roti tawar dan mengoleskan selai cokelat di atasnya. Dan melahapnya.
          “Rie! Ayo makan supmu. Nanti kau kelaparan di sekolah,” kata okasan kepadaku.
          Aku menggeleng, “Yuki sudah lama menunggu, kasihan dia, okasan,” jawabku menatap Yuki. Yuki yang merasa ditatap hanya tersenyum.
          “Kau ini! Namanya Yukio, bukan Yuki. Yuki itu nama perempuan,” okasan menegurku. Aku hanya nyengir. “Ini bekalmu. Dihabiskan, ya.” Okasan memberikan bekal kepadaku. Aku sebenarnya malas bawa bekal. Terkesan seperti anak TK, tapi okasan sudah menyiapkannya untukku dan aku harus memakannya tanda aku menyayanginya.
          “Arigatou ne(terima kasih), okasan.” Aku mengecup pipi okasan. Lalu mengambil ranselku dan menuju rak sepatu. Aku suka setiap kali aku memakai sepatu ketsku ini tapi sayangnya di sekolah kami harus menggantinya dengan uwabaki(sepatu sekolah di Jepang) yang bentuknya sangat tidak kusukai.
          “Ayo, Yuki,” kataku kepada Yuki. Ia  lalu berjalan menuju ke arahku----menuju pintu. “Kami berangkat!” teriakku lalu menutup pintu.
          Selama setengah perjalanan menuju sekolah, kami berdua membisu. Yuki yang biasanya mengoreksi penampilanku kini hanya diam. Mungkin dia marah, tapi apa sebabnya? Kucoba memecah sunyi yang terjadi di antara kami, “ada apa denganmu, Yuki?” Yang ditanya hanya menggeleng. “Ayo cerita, Yuki. Kalau kau diam saja aku tidak akan tahu,” bujukku.
          Kudengar Yuki menghembuskan napas, “sudah kukatakan, aku tidak suka kau memanggilku Yuki,” ungkap Yuki akhirnya.
          Aku diam. Menahan tawa. “Cuma itu? Hahaha! Kukira kau punya masalah serius.” Tawaku meledak. Yuki memang pernah bilang begitu, saat itu aku masih kelas tiga SMP.
          “Aku serius! Aku memaklumimu dulu saat kau masih SD----saat kau baru mengalami kecelakaan. Tapi sekarang tidak lagi, Rie-chan. Itu kejadian 6 tahun yang lalu, saat kau mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan dan yang kau ingat hanya namaku adalah ‘Yuki’. Tapi sekarang, ingatanmu sudah pulih, bukan? Biasakanlah memanggilku Yukio atau Yukio-senpai,” jelas Yukio.
          “Yukio-senpai? Kenapa begitu?” tanyaku heran.
          “Karena aku ini kakak kelasmu. Aku kelas dua kau kelas satu. Aku tidak mau teman-temanku mengira aku diremehkan adik kelas padahal kau tidak bermaksud meremehkanku dengan memanggilku Yuki,” jawab Yukio. Ekspresinya seperti menahan amarah.
          “Aku akan berusaha memanggilmu Yukio. Tapi aku tidak mau memanggilmu Yukio-senpai, karena kau hanya tiga bulan lebih tua dariku. Kau hanya terlalu cepat masuk sekolah,” jawabku sedikit marah. Kesal juga rasanya tiba-tiba di pagi yang cerah ini Yuki.. o tiba-tiba menghakimiku begitu.
          “Aku ini kakak kelasmu! Dimana-mana kakak kelas harus dipanggil Senpai(kakak kelas)!” kata Yukio setengah teriak.
          “Aku tidak mau!” jawabku lantang.
          “Kau! Aku sudah banyak membantumu dari dulu! Aku tak perlu kau membalas kebaikanku, aku hanya ingin kau menghormatiku dengan memanggilku SENPAI!!!” teriak Yukio yang mengarah kepadaku.
          Aku sangat terkejut Yukio membentakku dengan nada marah. Marah hanya karena keinginannya yang tidak masuk akal itu. Karena sudah dibentak begitu, aku pun kesal lalu berjalan cepat meninggalkan Yukio di belakangku. Yukio baka(bodoh)! Dia ‘kan sudah tahu kalau aku saja tidak pernah memanggil nama kakak kelas dengan akhiran Senpai, apalagi menyebut namanya dengan akhiran Senpai. Aku menganggap Yukio sudah sebagai kakakku sendiri, bukan kakak kelasku. Kalau dia menyuruhku memanggilnya Niichan(kakak laki-laki) mungkin aku mau.
          “Hei, gadis kecil… Sendirian, ya? Mau kutemani?” Tiba-tiba ada seorang pria mabuk di depanku yang sedang mencoba merayuku. Uh, napasnya bau minuman keras. Aku heran, masih pagi begini sudah ada yang mabuk. Ah, iya, mungkin dia mabuk dari semalam.
          Aku tidak mau berurusan dengannya. Aku melanjutkan jalanku dan menganggap saat ini tidak terjadi apa-apa. Pria mabuk yang kutinggalkan di belakangku rupanya hanya diam saja, aku mendengarnya walaupun aku tidak melihatnya.
          “Awas!” teriak Yuki.. o dari belakangku?
          Ada yang mendorongku hingga aku terjatuh ke tanah. Membuat lututku lecet. Bayanganku adalah pemabuk itu yang mendorongku. Aku menghadap ke belakang agar aku bisa melihat dan memarahi pendorongku. Tapi yang kulihat adalah Yukio yang berdiri dengan darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Aku menutup mulutku dengan tanganku yang terbuka secara refleks karena melihat kejadian itu. Yukio terjatuh tertelungkup. Aku menghampirinya.
          “Yukio? Apa yang terjadi?” Kulihat di punggung Yukio terdapat darah yang mengucur deras dari satu tempat. Kulihat pemabuk itu, dia memegang pisau yang penuh darah. Kusimpulkan bahwa pemabuk itu berniat menusukku tapi Yukio yang melihatnya langsung mendorongku dan alhasil Yukio-lah yang terkena tusukannya. Air mataku mulai mengalir. Apa yang harus kulakukan? Berteriak meminta pertolongan? Ini gang sempit yang jarang dilewati orang, Rie. Jika kau teriak, suaramu hanya akan menggema dan yang akan mendengar hanya dirimu. Menggendong Yukio hingga ke rumah sakit? Yukio itu berat, aku pasti kewalahan menggendongnya atau pun mentatihnya. Lagi pula, akan memakan waktu lama untuk sampai ke rumah sakit terdekat yang berjarak 3 km dari sini. Atau menggendong Yukio hingga sampai depan gang? Percuma, masih 500 m lagi untuk sampai.
          “Rie-chan…” Aku mendengar suara Yukio. Kuputar tubuhnya agar berubah posisi. Kutidurkan kepalanya di atas pahaku.
          “Yukio! Kau tidak apa-apa? Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau tenang saja,” kataku sambil menyeka air mataku. Aku tidak percaya dengan kata-kataku. Tapi aku harap aku bisa menolongnya walau kemungkinannya tipis.
          Yukio memegang tanganku, “tidak usah, Rie-chan… Tidak akan sempat…” Suara Yukio kini hanya terdengar seperti bisikan. “Jantungku sudah tertusuk. Tidak mungkin aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi…”
          “Jangan bilang begitu!” kataku terisak.
          “Maafkan aku, Rie-chan… Aku tadi membuatmu marah…”
          “Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku memang keras kepala dan egois.”
          Yukio kini hanya bisa tersenyum. Mungkin sudah susah baginya untuk berbicara ataupun hanya membuka mulut.
          Aku sudah tidak melihat pemabuk tadi. Kuharap pemabuk itu sudah tewas dalam keadaan mengenaskan. Entah itu karena kebanyakan minum atau pun tertabrak mobil. Semoga!
          Aku merasakan perlahan-lahan Yukio melepaskan pegangan tangannya dari tanganku. “Yukio… Jangan…” Matanya kini yang mulai menutup dengan perlahan. “Tidak…” isakan tangisku semakin keras. Ku coba mendekatkan telingaku ke dadanya tapi aku tidak mendengar apa-apa. Apa ini artinya Yukio sudah meninggal? Aku menangis sekeras mungkin dengan posisi menundukkan kepalaku di dada Yukio. Aku merasa sangat bersalah padanya, apalagi di akhir hayatnya kami berkelahi. Kupikir-pikir lagi, tidak ada salahnya memanggilnya Senpai. Aku memang bodoh! Tolol! Idiot! Tidak berguna!
          “Yukio-senpai… Gomen nasai(maafkan aku)…”