Sreet…
Aku mendengar sura pintu depan rumahku
dibuka. Itu pasti Yuki, dia selalu datang terlalu pagi menjemputku. Padahal
sudah berkali-kali kukatakan padanya bahwa jemput aku tiga puluh menit sebelum
bel sekolah berbunyi. Kalau dia menjemputku sekarang----empat puluh lima menit
sebelum bel----dia pasti akan lama menunggu karena aku baru selesai mandi.
Aku mendengar okasan(ibu) memanggilku
turun. “Hai(iya). Aku baru saja mau turun,” kataku bohong. Aku lalu bergegas
mengganti pakaian mandiku dengan seragam SMA Perfect Kyoto kebanggaanku. Tak
lupa pula aku bercermin, menyisir rambutku yang kupotong mirip dengan tokoh
anime favoritku dan memakaikan bedak bayi tipis ke wajahku. Yup, penampilanku
sempurna. Kuambil ranselku dan turun menuju dapur. Di sana pasti Yuki sudah
menunggu.
“Maaf membuatmu menunggu, Yuki,”
kataku sesampai di bawah. Aku berjalan menuju okasan, menaruh ranselku di kursi
meja makan, lalu mengambil roti tawar dan mengoleskan selai cokelat di atasnya.
Dan melahapnya.
“Rie! Ayo makan supmu. Nanti kau kelaparan
di sekolah,” kata okasan kepadaku.
Aku menggeleng, “Yuki sudah lama
menunggu, kasihan dia, okasan,” jawabku menatap Yuki. Yuki yang merasa ditatap
hanya tersenyum.
“Kau ini! Namanya Yukio, bukan Yuki.
Yuki itu nama perempuan,” okasan menegurku. Aku hanya nyengir. “Ini bekalmu.
Dihabiskan, ya.” Okasan memberikan bekal kepadaku. Aku sebenarnya malas bawa
bekal. Terkesan seperti anak TK, tapi okasan sudah menyiapkannya untukku dan
aku harus memakannya tanda aku menyayanginya.
“Arigatou ne(terima kasih), okasan.” Aku
mengecup pipi okasan. Lalu mengambil ranselku dan menuju rak sepatu. Aku suka
setiap kali aku memakai sepatu ketsku ini tapi sayangnya di sekolah kami harus
menggantinya dengan uwabaki(sepatu sekolah di Jepang) yang bentuknya sangat
tidak kusukai.
“Ayo, Yuki,” kataku kepada Yuki.
Ia lalu berjalan menuju ke
arahku----menuju pintu. “Kami berangkat!” teriakku lalu menutup pintu.
Selama setengah perjalanan menuju
sekolah, kami berdua membisu. Yuki yang biasanya mengoreksi penampilanku kini
hanya diam. Mungkin dia marah, tapi apa sebabnya? Kucoba memecah sunyi yang
terjadi di antara kami, “ada apa denganmu, Yuki?” Yang ditanya hanya
menggeleng. “Ayo cerita, Yuki. Kalau kau diam saja aku tidak akan tahu,” bujukku.
Kudengar Yuki menghembuskan napas, “sudah
kukatakan, aku tidak suka kau memanggilku Yuki,” ungkap Yuki akhirnya.
Aku diam. Menahan tawa. “Cuma itu?
Hahaha! Kukira kau punya masalah serius.” Tawaku meledak. Yuki memang pernah
bilang begitu, saat itu aku masih kelas tiga SMP.
“Aku serius! Aku memaklumimu dulu saat
kau masih SD----saat kau baru mengalami kecelakaan. Tapi sekarang tidak lagi,
Rie-chan. Itu kejadian 6 tahun yang lalu, saat kau mengalami hilang ingatan
akibat kecelakaan dan yang kau ingat hanya namaku adalah ‘Yuki’. Tapi sekarang,
ingatanmu sudah pulih, bukan? Biasakanlah memanggilku Yukio atau Yukio-senpai,”
jelas Yukio.
“Yukio-senpai? Kenapa begitu?” tanyaku
heran.
“Karena aku ini kakak kelasmu. Aku
kelas dua kau kelas satu. Aku tidak mau teman-temanku mengira aku diremehkan
adik kelas padahal kau tidak bermaksud meremehkanku dengan memanggilku Yuki,” jawab
Yukio. Ekspresinya seperti menahan amarah.
“Aku akan berusaha memanggilmu Yukio.
Tapi aku tidak mau memanggilmu Yukio-senpai, karena kau hanya tiga bulan lebih
tua dariku. Kau hanya terlalu cepat masuk sekolah,” jawabku sedikit marah.
Kesal juga rasanya tiba-tiba di pagi yang cerah ini Yuki.. o tiba-tiba
menghakimiku begitu.
“Aku ini kakak kelasmu! Dimana-mana
kakak kelas harus dipanggil Senpai(kakak kelas)!” kata Yukio setengah teriak.
“Aku tidak mau!” jawabku lantang.
“Kau! Aku sudah banyak membantumu dari
dulu! Aku tak perlu kau membalas kebaikanku, aku hanya ingin kau menghormatiku
dengan memanggilku SENPAI!!!” teriak Yukio yang mengarah kepadaku.
Aku sangat terkejut Yukio membentakku
dengan nada marah. Marah hanya karena keinginannya yang tidak masuk akal itu.
Karena sudah dibentak begitu, aku pun kesal lalu berjalan cepat meninggalkan Yukio
di belakangku. Yukio baka(bodoh)! Dia ‘kan sudah tahu kalau aku saja tidak
pernah memanggil nama kakak kelas dengan akhiran Senpai, apalagi menyebut
namanya dengan akhiran Senpai. Aku menganggap Yukio sudah sebagai kakakku
sendiri, bukan kakak kelasku. Kalau dia menyuruhku memanggilnya Niichan(kakak laki-laki)
mungkin aku mau.
“Hei, gadis kecil… Sendirian, ya? Mau
kutemani?” Tiba-tiba ada seorang pria mabuk di depanku yang sedang mencoba merayuku.
Uh, napasnya bau minuman keras. Aku heran, masih pagi begini sudah ada yang
mabuk. Ah, iya, mungkin dia mabuk dari semalam.
Aku tidak mau berurusan dengannya. Aku
melanjutkan jalanku dan menganggap saat ini tidak terjadi apa-apa. Pria mabuk
yang kutinggalkan di belakangku rupanya hanya diam saja, aku mendengarnya
walaupun aku tidak melihatnya.
“Awas!” teriak Yuki.. o dari
belakangku?
Ada yang mendorongku hingga aku
terjatuh ke tanah. Membuat lututku lecet. Bayanganku adalah pemabuk itu yang
mendorongku. Aku menghadap ke belakang agar aku bisa melihat dan memarahi
pendorongku. Tapi yang kulihat adalah Yukio yang berdiri dengan darah mengucur
dari mulut dan hidungnya. Aku menutup mulutku dengan tanganku yang terbuka
secara refleks karena melihat kejadian itu. Yukio terjatuh tertelungkup. Aku
menghampirinya.
“Yukio? Apa yang terjadi?” Kulihat di
punggung Yukio terdapat darah yang mengucur deras dari satu tempat. Kulihat
pemabuk itu, dia memegang pisau yang penuh darah. Kusimpulkan bahwa pemabuk itu
berniat menusukku tapi Yukio yang melihatnya langsung mendorongku dan alhasil
Yukio-lah yang terkena tusukannya. Air mataku mulai mengalir. Apa yang harus
kulakukan? Berteriak meminta pertolongan? Ini gang sempit yang jarang dilewati
orang, Rie. Jika kau teriak, suaramu hanya akan menggema dan yang akan
mendengar hanya dirimu. Menggendong Yukio hingga ke rumah sakit? Yukio itu
berat, aku pasti kewalahan menggendongnya atau pun mentatihnya. Lagi pula, akan
memakan waktu lama untuk sampai ke rumah sakit terdekat yang berjarak 3 km dari
sini. Atau menggendong Yukio hingga sampai depan gang? Percuma, masih 500 m
lagi untuk sampai.
“Rie-chan…” Aku mendengar suara Yukio.
Kuputar tubuhnya agar berubah posisi. Kutidurkan kepalanya di atas pahaku.
“Yukio! Kau tidak apa-apa? Aku akan
membawamu ke rumah sakit. Kau tenang saja,” kataku sambil menyeka air mataku. Aku
tidak percaya dengan kata-kataku. Tapi aku harap aku bisa menolongnya walau
kemungkinannya tipis.
Yukio memegang tanganku, “tidak usah,
Rie-chan… Tidak akan sempat…” Suara Yukio kini hanya terdengar seperti bisikan.
“Jantungku sudah tertusuk. Tidak mungkin aku bisa bertahan hidup lebih lama
lagi…”
“Jangan bilang begitu!” kataku
terisak.
“Maafkan aku, Rie-chan… Aku tadi
membuatmu marah…”
“Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf
padamu. Aku memang keras kepala dan egois.”
Yukio kini hanya bisa tersenyum.
Mungkin sudah susah baginya untuk berbicara ataupun hanya membuka mulut.
Aku sudah tidak melihat pemabuk tadi.
Kuharap pemabuk itu sudah tewas dalam keadaan mengenaskan. Entah itu karena
kebanyakan minum atau pun tertabrak mobil. Semoga!
Aku merasakan perlahan-lahan Yukio
melepaskan pegangan tangannya dari tanganku. “Yukio… Jangan…” Matanya kini yang
mulai menutup dengan perlahan. “Tidak…” isakan tangisku semakin keras. Ku coba
mendekatkan telingaku ke dadanya tapi aku tidak mendengar apa-apa. Apa ini
artinya Yukio sudah meninggal? Aku menangis sekeras mungkin dengan posisi
menundukkan kepalaku di dada Yukio. Aku merasa sangat bersalah padanya, apalagi
di akhir hayatnya kami berkelahi. Kupikir-pikir lagi, tidak ada salahnya
memanggilnya Senpai. Aku memang bodoh! Tolol! Idiot! Tidak berguna!
“Yukio-senpai… Gomen nasai(maafkan
aku)…”